Posts

Showing posts from April, 2007

Ga nembus Kang Wimar...

Gara-gara mau ngomentarin tulisan yang ada di prespektif on line ya udah saya putuskan nulis di blog sendiri. Tulisan pertama yang saya mau komentarin adalah mengenai malu,salah satu cuplikan tulisannya adalah,"... Orang yang punya nilai etika rendah tidak bisa merasakan malu." terus, "...Orang yang berperasaan halus, berbudaya tinggi, gampang malu." Dengan kata lain kita bisa menangkap kriteria orang yang masih mempunyai rasa malu atau tidak. Sebagai manusia biasa yang terlanjur dikenal sebagai manusia yang diluar biasanya manusia, dengan berbagai kelebihannya, Kang Wimar menyajikan beberapa contoh (peristiwa)mengenai orang yang punya malu dan kurang (tidak), tentunya sambil menunjuk tokoh-tokoh kita. Sampai di sini saya berfikir bahwa malu selalu ditautkan dengan suatu tindakan atau malu adalah respon dari suatu tindakan. Kalau benar, dengan kriteria di atas saya jadi fikir-fikir lagi. Kalau begitu malu sebagai suatu rasa ya... relatif. Ibarat 'pedas' ada

Family Business: Tantangan dan Harapan

Kamus Wikipedia memberikan pengertian family business (bisnis keluarga) sebagai sebuah perusahaan yang dimiliki (owned), dikontrol (controlled) dan dioperasikan (operated) oleh satu atau beberapa anggota keluarga. Di Indonesia perusahaan-perusahaan besar (konglomerasi) sebagian besar berasal dari perusahaan keluarga. Sebut saja Kelompok Usaha Bakrie, Grup Kalla, Nyonya Meneer, Sidomuncul, Sampoerna, Sinar Mas, Gudang garam, Grup Ciputra, Grup Lippo, Grup Djajanti, dan lain-lain. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh R. Beckhard dan W. Gibb Dyer menjelaskan bahwa di Amerika 90 % perusahaan dengan kategori cukup besar merupakan perusahaan keluarga atau perusahaan yang dikuasai oleh kelompok keluarga. Sementara itu menurut Naisbitt dan Aburdene, dari seluruh perusahaan keluarga, hanya 30 % dapat langgeng sampai generasi kedua. Rata-rata perusahaan keluarga hanya bertahan sebatas usia perintisnya. Sementara itu majalah Family Business telah melakukan survai dan mendapatkan data 250 peru

YAKINLAH, DI SETIAP KESUKARAN SELALU ADA JALAN

The Power tend to corrupt but… Powerless Tend to Corrupt too (Amin Rais) Menjalani hidup sebagai rakyat jelata di negeri ini lebih seperti sebuah perjuangan hidup dan mati. Tak ada jaminan yang bisa dijadikan pegangan bahwa apa yang akan diperoleh esok hari adalah sesuatu yang lebih baik. Bahkan tak ada jaminan bahwa esok hari akan benar-benar ada. Sulitnya mendapatkan pekerjaan yang layak, dan tingginya angka inflasi menambah beratnya nafas yang harus dihela setiap hari. Hirarki kebutuhan hidup tidak pernah bergeser dari garis terbawah, basic needs: sandang, pangan, papan, biologis. Keamanan, kenyamanan, bahkan harga diri, kadang diabaikan demi memenuhi basic needs. Jadi jangan bicara tentang aktualisasi diri. Tak perlu ada aktualisasi diri jika perut masih keroncongan. Pada kondisi ini rakyat lapar tidak bisa lagi diberi ruang berfikir, nasehat bahan kesabaran. Pada titik ini pula nilai-nilai anarkis begitu dekat. Apalagi kalau di kehidupan sekitar terlihat begitu jomplang, penuh den