Ketika Allah Lebih Memilih Orang yang Mau Belajar[1]
Seri Taddabur: Surat ‘Abasa (Bagian I)
Pernahkah kita ditegur pasangan karena terlambat membalas
pesan WhatsApp?
Padahal bukan karena sengaja. Bisa jadi saat itu kita sedang
sibuk, sedang ada masalah, atau bahkan sedang membalas pesan orang lain yang
kita anggap lebih penting.
Soal pola hubungan, cara kita merespons, termasuk pemilihan siapa yang lebih penting, untuk semua ini ternyata Allah SWT telah mengajarkan kita melalui Surat 'Abasa, surat ke-80 dari Al-Qur’an.
Surat ini sering dipahami sebagai kisah teguran. Namun jika
kita renungkan lebih dalam, surat ini sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang
sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari: siapa sebenarnya orang yang
paling berharga di sisi Allah?
Pada awal Surat 'Abasa, Allah menggambarkan sebuah peristiwa
yang sangat menarik.
Ada seorang laki-laki yang buta datang dengan niat belajar dan
mencari petunjuk. Namun pada saat yang sama, perhatian justru sedang tertuju
kepada orang-orang yang dianggap lebih penting.
Bisa jadi ia memang seorang yang buta secara fisik, namun yang
perlu digarisbawahi adalah kesadaran orang ini bahwa dirinya buta secara
pengetahuan, wawasan dan cara pandang yang membawanya untuk berani bertanya untuk
belajar. Dan, sahabat yang “buta” ini justru yang memiliki kelebihan yang luar
biasa: ia sadar bahwa dirinya masih perlu belajar untuk meningkatkan kapasitas
dirinya.
Apresiasi yang tinggi kepada “orang buta” ini dari Allah SWT dengan
memberikan teguran kepada seseorang yang dianggap mampu memberikan pencerahan namun
justru tidak memberikan perhatian yang semestinya.
Bisa jadi teguran dari Allah ini ditujukan kepada kita.
Bukan karena kita bermuka masam kepada orang buta, tetapi
karena tanpa sadar kita sering menilai manusia dari jabatan, pendidikan,
kekayaan, atau penampilannya.
Kita lebih cepat merespons orang yang dianggap penting,
sementara mengabaikan orang yang sebenarnya datang dengan ketulusan hati.
Karena itu, Surat 'Abasa mengajak kita untuk terus rendah
hati. Tidak malu mengakui kekurangan. Tidak gengsi untuk belajar. Dan menjauhkan
dari penilaian secara fisik atau material kepada orang lain. Sebab sering kali
orang yang dianggap kecil oleh manusia justru memiliki kedudukan yang besar di
sisi Allah.
Maka sebelum sibuk menilai orang lain, mungkin ada baiknya
kita bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang membuat seseorang berhenti belajar?
Mengapa ada orang yang tetap haus ilmu hingga
akhir hayatnya, sementara yang lain merasa sudah cukup hanya karena memiliki
sedikit pengetahuan, pengalaman, atau kedudukan?
Ternyata Al-Qur'an memiliki jawabannya. Dan itulah yang akan
kita bahas pada tulisan berikutnya. Insyaa Allah.
