Posts

Jadilah seperti pinsil

Dari blog laen... Mohon Copast... Seorang anak bertanya kepada neneknya yang sedang menulis sebuah surat. “Nenek lagi menulis tentang pengalaman kita ya? atau tentang aku?” Mendengar pertanyaan si cucu, sang nenek berhenti menulis dan berkata kepada cucunya, “Sebenarnya nenek sedang menulis tentang kamu, tapi ada yang lebih penting dari isi tulisan ini yaitu pensil yang nenek pakai.” “Nenek harap kamu bakal seperti pensil ini ketika kamu besar nanti” ujar si nenek lagi. Mendengar jawaban ini, si cucu kemudian melihat pensilnya dan bertanya kembali kepada si nenek ketika dia melihat tidak ada yang istimewa dari pensil yang nenek pakai. “Tapi nek sepertinya pensil itu sama saja dengan pensil yang lainnya.” Ujar si cucu. Si nenek kemudian menjawab, “Itu semua tergantung bagaimana kamu melihat pensil ini. Pensil ini mempunyai 5 kualitas yang bisa membuatmu selalu tenang dalam menjalani hidup, kalau kamu selalu memegang prinsip-prinsip itu di dalam hidup ini.” Si nenek kemudian menjelaskan ...

Bangga Jadi generalist

Resi Manajemen Indonesia, Gde Prama, pernah menulis dalam sebuah artikelnya, bahwa semakin tinggi ilmu seseorang maka label idiot telah melekat padanya. Gde Prama menuliskan hal itu terkait denga tema tulisan mengenai pengotak-ngotakan ilmu. Bagaimana tidak, satu contoh di bidang kedokteran, saat ini telah bercabang menjadi banyak kotak keilmuan. Mulai dari kedokteran itu sendiri, farmasi, keperawatan, gizi, radiologi, dan masih banyak bingkai lainnya. Tidak berhenti di sini, bidang kedokteran, selain terjadi pengelompokan antara kedokteran umum dan spesialisasi, di spesialisasi ini terus mengerucut sampai ke ranah atomis. Sebut saja, dulu, untuk para dokter yang rajin “ngoprek” bagian dalam tubuh manusia cukup ngambil spesialisasi internist saja. Namun sekarang, terspsesilisasi lagi menjadi dokter yang ahli di saluran pencernaan, paru-paru, jantung, limfa dan ginjal termasuk ginekologi. Nah, berlanjut terus, dari spesiliasai jantung, saat ini sudah terjadi pengkhususan kajian. Ada yan...

Anak Muda Diimbau Jangan Tiru Sarah & Rahma Azhari

"The Truth is in the opposite" Itu yang disampaikan Bang Zaim Saidi, intelectual muda yang giat mengusung isu sistem perekonomian islam melalui kampanye transaksi dinar. Walaupun konteks frase di atas merujuk kepada bahwa apa yang datang/keluar dari Barat, para kaum Kapitalis (dlm arti peyoratif), pada kenyataannya adalah berlawanan/bersebrangan dengan apa yang diserukan atau diomongkan. Misal, masih kata Bang Zaim, mereka ngomong demokrasi dan HAM namun pada praktekna adalah pemberangusan pendapat dan pemaksaaan kehendak tanpa mengindahkan nilai-niali HAM itu sendiri. Nah, dalam kontek judul "note" ini justru menular ke negeri ini. Sebelum masuk ke catatan mengenai Mba Sarah dan Mba Rahma (sorry, sama sekali bukan sepupu saya), idiom "The Truth is in opposite" justru sebelumnya digunakan oleh PAMARENTAH (tukang merintah) bukan Governance (pengayom, pelayan dan pengelola) sejak ORBA sampai sekarang. Kalau pemerintah bilang Kondisi ekonomi makro stabil, mak...

Jangan Pernah Menyepelekan

Oleh: Setiadi Ihsan Kejadiannya sudah cukup lama sekitar 6 tahun lalu. Tapi, Insyaa Allah nilai dari cerita ini masih berlaku untuk saat ini dan ke depan. Walaupun lingkungan pesantren bukan hal yang asing, namun untuk menyengaja silaturahmi ke Pesantren, khususnya Pimpinan Pondok Pesantren memang baru pertama kali. Saat itu, seorang kawan mengajak saya untuk menemui seorang ulama di salah satu pelosok di daerah Garut. "Urang silaturahmi!" katanya. bagi, kawan saya yang berprofesi dagang ini bersilaturahmi kepada pimpinan pondok pesantrean, telah menjadi kebiasaan. "Itung-itung cari ilmu dengan mendengarkan cerita tentang hikmah dalam menjalani hidup", katanya. Waktu itu, saya masih ingat, baru melepaskan pekerjaan saya sebagai banker di salah satu Bank Swasta. Padahal kondisi tahun 2002, statistik berbicara lain mengenai pengangguran, begitu banyak penggila pekerjaan melempar surat lamaran untuk menyambung hidup. Pada bulan ke-4 setelah diterima di Bank Swasta ter...

CSR Sebagian dari Iman?

Oleh Setiadi Ihsan Masih ingat dengan kaidah “iman”? Pengertian iman merupakan pelajaran pertama ketika saya duduk di madrasah dan belajar mengenai ilmu tauhid (ushuluddin/theologi). Definisi ’iman', tasdiqul bil-qolbi, takriru bil lisan wal amalul bil arkan adalah pengertian yang saya dapat sebelum belajar detail mengenai aspek lainnya. Diyakini dalam hati, diucapkan melalui lisan dan dilakukan oleh anggota badan adalah totalitas dari sebuah keimanana (aqidah) sesuai dengan kaidah di atas. Dengan kata lain bukan ber-iman namanya kalau masih terdapat bolong dalam satu dari tiga aspek keimanan tersebut. Orang mengaku beriman kepada Tuhan maka hatinya harus meyakini secara penuh. Tidak cukup itu saja, dalam agama Islam misalnya, diharuskan adanya prosesi pembacaan syahadat, salah satunya adalah pembacaan ikrar bahwa dia mengakui satu-satunya Tuhan yang harus disembah, yaitu Allah. Proses selanjutnya adalah penerapan atas kesaksian atas apa yang telah diucapkan. Ia yang mengaku ber...

Beban Beragama

Semua agama mengajarkan kebaikan. Artinya semua agama cenderung kepada kebaikan. Lepas dari hal khusus dari suatu agama, semua agama cenderung pada hal kebaikan universal. Sebalikmya menghindari dan melarang umatnya untuk melakukan tindakan kejahatan (tanpa embel2 universal). Namun, sering kita dalam urusan agama ini cenderung berfikir induktif. Prilaku seorang umat beragama sering ditafsirkan sebagai ajaran agamanya. Ini juga yang mendorong ke arah kritik banyaknya umat berlindung dari agama. Agama dijadikan kedok atau topeng. Setelah heboh prilaku Syekh Puji, kini seorang Kyai dari Pati, pimpinan SMK TELKOM Terpadu memaksa masyarakat untuk berfikir lain tentang keberagamaan. Di semua agama sering terjadi penyimpangan individu atau kelompok yang pada akhirnya menyudutkan nilai-nilai agama. Kasus lain, korupsi misalnya. Banyak pakar yang mengajukan resep pemberantasan korupsi ini melalui pesan-pesan moral agama. "Pendidikan agama memegang peran penting," katanya. Namun, seka...

Si Kabayan

Ku Ajip Rosidi Saha urang Sunda anu henteu terang ka si Kabayan? Salian ti jadi tokoh dongéng anu baheula mah sok ditepikeun ku nini jeung aki ka incu, ayeuna mah ditulis jadi buku sarta dijieun filem sagala. Dina majalah basa Sunda sok aya lulucon anu tokoh utamana si Kabayan. Di Banten béjana aya makam anu disebut makam si Kabayan. Wallahu’alam naha enya anu dikubur di dinya téh si Kabayan anu sok jadi tokoh dongéng téa, atawa si Kabayan nu séjén deui. Si Kabayan tokoh dongéng mah fiksi, ngan aya dina hayalan anu nyaritakeun atawa nuliskeunana, jadi mustahil aya bungkeuleukanana nepi ka kudu dikubur sagala. Tapi henteu mustahil kétang sabada dikubur, kakara caritana sumebar bari jeung ditambahan atawa diréka-réka ku ahli carita. Enya henteuna kitu tanwandé kudu dipaluruh heula sacara ilmiah. Si Kabayan téh dipikaresep pisan ku urang Sunda. Buktina nu nyieun carita nu tokohna si Kabayan henteu béak-béak. Bari jeung lamun dititénan pasipatan tokoh si Kabayan téh henteu salilana konsist...